Prosedur Akuntansi Persediaan

PROSEDUR AKUNTANSI PERSEDIAAN

UNTUK JENJANG SMK

BAB I. PENDAHULUAN

DESKRIPSI JUDUL
Modul ini terdiri atas 3 (tiga) kegiatan belajar, yakni: (1) menguraikan konsep dasar persediaan yang mencakup klasifikasi persediaan, pengendalian internal persediaan, menentukan biaya persediaan, (2) menentukan nilai persediaan dengan menggunakan system pencatatan persediaan, sistem periodik dan (3) pencatatan persediaan pada kartu persediaan dengan menggunakan sistem perpetual.

PRASYARAT
Untuk memudahkan anda dalam memahami modul ini, maka sebelum mempelajari modul ini, anda dipersyaratkan telah memiliki kompetensi menerapkan konsep double entry recording, mengerjakan prosedur pencatatan dalam siklus akuntansi untuk perusahaan dagang, mengerjakan prosedur akuntansi kas dan surat berharga, dan
mengerjakan prosedur akuntansi piutang dagang dan piutang wesel untuk perusahaan jasa maupun perusahaan dagang sesuai SKN Bidang Pekerjaan Akuntansi, atau telah mempelajari modul-modul tertentu dengan tuntas seperti terlihat pada peta kedudukan modul dengan menunjukkan alat bukti-bukti yang otentik. Modul-modul yang dipersyaratkan harus anda tempuh sebelum mempelajari modul ini, yakni modul dengan judul:
” Menyusun laporan keuangan dengan menerapkan konsep double entry recording,
” Mengerjakan prosedur pencatatan dalam siklus akuntansi untuk perusahaan dagang.
” Mengerjakan prosedur akuntansi kas dan surat berharga.
” Mengerjakan prosedur akuntansi piutang dagang dan piutang wesel.

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
Bacalah petunjuk penggunaan modul ini dan pahamilah isinya, untuk memudahkan anda dan guru/instruktur menggunakan modul ini dalam proses pemelajaran.
a) Langkah-langkah yang harus anda (peserta diklat) tempuh
1. Bacalah dengan cermat rumusan tujuan akhir dari kegiatan belajar ini yang memuat kinerja yang diharapkan, kriteria keberhasilan, dan kondisi yang diberikan dalam rangka membentuk kompetensi kerja yang akan dicapai melalui modul ini.
2. Bacalah dengan cermat dan pahami dengan baik daftar pertanyaan pada “cek kemampuan” sebagai pengukur kompetensi yang harus dikuasai dalam modul ini. Lakukan ini pada awal dan akhir mempelajari modul untuk meyakinkan penguasaan kompetensi sebagai pencapaian hasil belajar anda.
3. Diskusikan dengan sesama peserta diklat apa yang telah anda cermati untuk mendapatkan pemahaman yang baik tentang tujuan belajar dan kompetensi yang ingin dicapai dalam modul. Bila masih ragu, maka tanyakanlah pada guru/instruktur sampai paham.
4. Bacalah dengan cermat peta kedudukan modul, prasyarat dan pengertian dari istilah-istilah sulit dan penting dalam modul.
5. Bacalah dengan cermat materi setiap kegiatan belajar, rencanakan kegiatan belajar, kerjakan tugasnya, dan jawablah pertanyaan tes, kemudian cocokkan dengan kunci jawaban. Lakukan kegiatan ini sampai anda tuntas menguasai hasil belajar yang diharapkan.
6. Bila dalam proses memahami materi anda mendapatkan kesulitan, maka diskusikan dengan teman-teman anda atau konsultasikan dengan guru/instruktur.
7. Setelah anda menuntaskan semua kegiatan belajar dalam modul ini, selanjutnya pelajarilah modul selanjutnya sesuai yang tertuang pada peta kedudukan modul untuk Program Keahlian Akuntansi, yakni modul akuntansi prosedur investasi jangka panjang, aktiva tetap, hutang jangka panjang, dan akuntansi modal firma.
8. Anda tidak dibenarkan melanjutkan epada kegiatan belajar berikutnya, bila belum menguasai secara tuntas materi pada kegiatan belajar sebelumnya.
9. Setelah semua modul untuk mencapai satu kompetensi telah tuntas dipelajari maka ajukan uji kompetensi dan sertifikasi.

b) Peranan Guru/Instruktur
1. Pastikan bahwa peserta diklat yang akan mempelajari modul ini telah mempelajari modul-modul prasyarat secara tuntas.
2. Bantulan peserta diklat dalam menyusun rencana kegiatan belajar dalam rangka mempelajari modul ini. Berikan perhatian khusus pada perencanaan jenis kegiatan, tempat kegiatan belajar dan waktu penyelesaian akhir pemelajaran, agar mereka dapat belajar efektif dan efisien untuk mencapai sub-kompetensi standar.
3. Mengidentifikasi dan menganalisis sarana-prasarana kegiatan belajar yang ada di SMK dan industri untuk mengoptimalkan kegiatan pemelajaran.
4. Berikan motivasi, bimbingan dan pendampingan pada peserta diklat agar semangat belajarnya meningkat.

TUJUAN AKHIR
Spesifikasi kinerja yang diharapkan dikuasai setelah menyelesaikan akhir pemelajaran dalam modul ini, yakni:
” menyiapkan dokumen penerimaan, penjualan serta retur penjualan,
” mencatat ke dalam jurnal,
” mencatat ke dalam kartu persediaan barang,
” menentukan nilai persediaan akhir barang.

KOMPETENSI
Kompetensi : Akuntansi Pos Neraca
Sub Kompetensi : Mengerjakan Akuntansi persediaan
Alokasi Waktu : 36 jam.
Sub Materi Pokok Pemelajaran : Mengerjakan Akuntansi Persediaan
Kompetensi:
” Mampu menjabarkan pengertian akuntansi sediaan
” Mampu menjabarkan pengendalian internal atas sediaan
” Mampu menjabarkan dan menggunakan metode pencatatan sediaan barang dagangan
” Mampu menjabarkan dan menggunakan metode penilaian sediaan
” Mampu membedakan pengaruh penilaian sediaan terhadap laba perusahaan
” Mampu menjabarkan dan menggunakan metode sediaan lower-of-cost-or-market
” Mampu menjabarkan dan menggunakan metode marjin kotor
Ruang Lingkup Belajar:
” pengertian akuntansi sediaan
” pengendalian internal atas sediaan
” metode pencatatan sediaan barang dagangan
” metode penilaian sediaan
” metode sediaan lowerof- cost-or-market
” metode marjin kotor
” pengertian dan fungsi akuntansi sediaan
” pengendalian internal atas sediaan yang efektif
” pemilihan metode pencatatan sediaan barang dagangan
” pemilihan metode penilaian sediaan
” metode sediaan lower-ofcost- or-market
” metode marjin kotor
” Mengerjakan akuntansi sediaan barang dagangan

Sikap Pengetahuan Keterampilan:?
” Teliti.
” Cermat.
” Jujur.
” Sabar.
” Tekun/ uet.

CEK KEMAMPUAN
Sebelum anda memelajari modul ini, anda diminta untuk menjawab semua pertanyaan di bawah ini. Kemudian, anda diminta belajar pada materi yang belum anda kuasai dengan tuntas. Jawablah semua pertanyaan dengan uraian singkat dan seperlunya.
Dapat Mengerjakan: Ya Tidak
No Sub-Sub Kompetensi:
1. Dapatkah anda menguraikan secara singkat pengertian persediaan
2. Dapatkah anda mengerjakan perhitungan biaya persediaan pada kertas folio bergaris.
3. Dapatkah anda membedakan sistem perpetual dan periodical
4. Dapatkah anda menguraikan tentang deskripsi berbagai metode penilaian (metode HP spesifik FIFO, LIFO, dan weighted average)
5. Dapatkah anda menguraikan hubungan antar penggunaan berbagai macam metode penilaian terhadap laba dan arus
6. Dapatkah anda mengerjakan teknik & prosedur dalam menentukan nilai persediaan menurut sistem pencatatan

BAB II. PEMBELAJARAN

A. RENCANA BELAJAR PESERTA DIKLAT
Kompetensi : Akuntansi Pos Neraca
Sub Kompetensi : Mengerjakan Prosedur Akuntansi Persediaan
Jenis Kegiatan : siswa mengerjakan soal-soal prosedur akuntansi persediaan
Tanggal:–
Waktu:–
Tempat Belajar:–
Tanda Tangan Guru:–

B. KEGIATAN BELAJAR 1
KONSEP DASAR PERSEDIAAN
Tujuan Pemelajaran 1
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran bagian pertama, mengenai hakekat persediaan, diharapkan anda mampu:
1. menjelaskan pengertian persediaan.
2. menjelaskan pengendalian internal persediaan.
3. mengidentifikasi saat pengakuan persediaan (status kepemilikan).
4. mengidentifikasi biaya-biaya yang harus dimasukkan dalam persediaan dan harga pokok barang yang dijual.

Uraian Materi 1
Istilah persediaan dalam akuntansi ditujukan untuk menyatakan suatu
jumlah aktiva berwujud (tangible assets) yang memenuhi kriteria (PSAK:
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia No. 14) yang menyatakan
bahwa persediaan adalah aktiva:
a) tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal.
b) dalam proses produksi dan atau perjalanan atau
c) dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam
proses produksi atau pemberian jasa.

Klasifikasi Persediaan
Berdasarkan kriteria di atas, persediaan mencakup unsur-unsur sebagai
berikut:
a) Barang dagangan yaitu barang yang dibeli oleh perusahaan dari pihak lain dalam kondisi sudah siap untuk dijual tanpa melakukan pemrosesan lebih lanjut. Misalnya persediaan pedagang mobil akan terdiri dari mobil, persediaan toko bahan makanan akan terdiri dari sayur, daging, makanan/minuman dalam kaleng, bahan roti dan kue, dan lain-lain.
b) Bahan baku adalah barang-barang yang beli oleh perusahaan dalam keadaan harus dikembangkan/diproses lebih lanjut yang akan menjadi bagain utama dari barang jadi. Misalnya untuk memproduksi sepeda maka bahan baku yang dibutuhkan adalah pipa baja.
c) Bahan pembantu adalah barang-barang yang beli oleh perusahaan dalam rangka mendukung proses produksi sampai menjadi barang jadi. Misalnya aksesoris perlengkapan sepeda merupakan bahan pembantu bagi pembuatan sepeda.
d) Barang dalam proses adalah bahan yang sudah dimasukkan dalam suatu proses produksi tetapi belum selesai diolah, sehingga baru menyerap sebagian biaya bahan, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Barang dalam proses dapat dilihat ketika anda berkunjung ke sebuah pabrik yang sedang dalam proses produksi, misalnya pipa baja yang sedang diproses dengan mesin agar menjadi bentuk yang diharapkan.
e) Barang jadi adalah produk selesai yang dihasilkan dari suatu pengolahan produk dan telah menyerap biaya bahan, biaya tenaga kerja serta biaya overhead pabrik secara tuntas. Misalnya penyelesaian akhir dari sebuah sepeda sehingga menjadi sepeda yang siap untuk dijual.

Pengendalian Internal Persediaan
Pengendaian internal atas persediaan merupakan hal yang penting, terutama bagi perusahaan dagang karena nilainya sangat material. Oleh karena itu umumnya perusahaan menerapkan pengendalian internal atas persediaan sebagai berikut:
a) Perhitungan fisik persediaan dilakukan paling tidak satu tahun sekali, apapun sistem pencatatan persediaan yang digunakan.
b) Membuat prosedur pembelian, penerimaan, dan pengiriman yang seefektif mungkin.
c) Menyimpan persediaan dengan baik, untuk menghindarkan persediaan dari pencurian, kerusakan atau penyusutan nilai persediaan.
d) Membatasi akses persediaan pada orang yang tidak mempunyai akses pada pencatatan persediaan.
e) Menggunakan sistem perpetual untuk persediaan yang mempunyai nilai tinggi.
f) Membeli persediaan dalam jumlah ekonomis.
g) Menyimpan persediaan dalam jumlah yang memadai sehingga menghindari terjadi kekurangan persediaan yang menyebabkan hilangnya penjualan namun juga tidak menyimpan persediaan terlalu banyak sehingga menimbun dana pada persediaan.
Penghitungan fisik setidaknya setiap tahun harus dilakukan karena kita akan dapat mengetahui secara pasti jumlah persediaan yang masih ada di tangan. Hal ini perlu karena sistem akuntansi yang baik pun masih mungkin terjadi kesalahan, misalnya karena ketidaksengajaan terjadi kesalahan pencatatan. Oleh karena itu penghitungan fisik persediaan dimaksudkan untuk mengoreksi kesalahan tersebut. Jika terjadi kesalahan pencatatan maka akan dibuat penyesuaian sehingga pada akhirnya saldo persediaan menurut pencatatan akan sama dengan perhitungan fisik. Pemisahan antara pegawai yang menangani persediaan dari catatan akuntansi merupakan hal yang penting, karena petugas yang mempunyai akses pada persediaan dan juga akuntansinya akan dapat mencuri barang dari gudang dan mengubah catatan akuntansinya untuk menutupi kecurangannya. Sistem persediaan yang terkomputerisasi dapat membantu perusahaan menjaga jumlah persediaan sehingga tidak kekurangan dan tidak pula terlalu banyak.

Kepemilikan Persediaan
Suatu barang dikatakan sebagai persediaan jika barang tersebut benarbenar dimiliki oleh perusahaan tanpa memandang lokasi persediaan tersebut. Agar dapat disusun laporan keuangan secara wajar, maka harus ditentukan apakah suatu elemen persediaan sudah secara sah menjadi hak milik perusahaan. Masalah yang mungkin terjadi pada akhir periode dalam rangka menentukan status kepemilikan persediaan, yakni antara lain:
a) Barang dalam perjalanan (Goods in transit)
Masalah yang timbul apabila barang masih dalam perjalanan adalah sulitnya menentukan apakah barang tersebut masih menjadi hak milik penjual atau sudah menjadi hak milik pembeli. Untuk mengatasi hal ini, maka dua syarat penyerahan barang digunakan sebagai dasar penentuan, yaitu FOB Shipping Point atau FOB Destination. FOB Destination Point, artinya biaya angkut barang dimulai dari gudang
penjual sampai gudang pembeli ditanggung oleh pihak penjual. Ini berarti bahwa barang-barang dalam perjalanan masih merupakan hak milik penjual.
FOB Shipping Point, artinya biaya angkut barang dimulai dari gudang penjual sampai gudang pembeli ditanggung oleh pihak pembeli, ini berarti pembeli adalah pemilik dari barang-barang yang masih dalam perjalanan. Oleh karena itu dalam menentukan saldo persediaan untuk satu periode perusahaan harus mencatat jumlah barang dagangan dalam perjalanan.
b) Barang Konsinyasi
Perjanjian konsinyasi mengijinkan suatu perusahaan lain untuk menyimpan persediaan dalam gudang mereka namun mereka tidak harus membeli persediaan tersebut. Dengan perjanjian ini, pemasok memberikan persediaan untuk dijual kembali dengan menahan kepemilikan persediaan sampai terjualnya persediaan tersebut. Barang-barang konsinyasi masih tetap dilaporkan sebagai bagian dari persediaan pemiliknya sampai barang tersebut dijual kepada pihak ketiga. Barangbarang ini dilaporkan sebesar harga perolehannya (cost) di tambah biayabiaya yang dikeluarkan untuk memindahkan barang tersebut dari gudang pemilik ke gudang perusahaan yang menjualkannya.

Menentukan Biaya Persediaan
Persediaan yang dimiliki oleh suatu perusahaan akan tergantung dari jenis usahanya. Misalnya suatu perusahaan dagang hanya memiliki satu jenis persediaan yaitu persediaan barang dagangan, sedang perusahaan industry akan memiliki lebih dari satu jenis persediaan. Oleh karena itu adalah penting untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan harga perolehan persediaan atau biaya persediaan. Menurut PSAK no 14 biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai (present location and condition). Sedangkan biaya pembelian persediaan meliputi harga pembelian, bea masuk dan pajak lainya (kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh perusahaan kepada kantor pajak) dan biaya pengangkutan, penanganan dan biaya lainya secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan dan jasa.
Diskon dagang (trade discount), rabat dan pos lain yang serupa di kurangkan dalam menentukan biaya pembelian. Dalam hal persediaan adalah bahan baku atau barang yang diperoleh untuk dijual kembali maka biaya termasuk didalamnya adalah harga pembelian, biaya angkut, biaya asuransi, pajak dan biaya penyimpanan. Dalam hal persediaan adalah barang dalam proses maka biaya terdiri dari bahan baku, tenaga kerja produksi dan sebagian overhead pabrik yang diharuskan untuk menjaga pabrik tetap berjalan. Dalam hal persediaan adalah barang jadi maka biaya terdiri dari bahan baku, tenaga kerja, dan biaya overhead yang digunakan dalam proses produksi barang tersebut.

Harga Pokok Penjualan
Tujuan pokok akuntansi persediaan adalah menetapkan secara layak hasil usaha selama satu periode dengan mengaitkan pendapatan terhadap biaya untuk memperoleh dan mempertahankan penghasilan tersebut. Dalam akuntansi persediaan harus ditentukan apakah suatu persediaan merupakan beban atau merupakan aktiva. Jika persediaan telah terjual maka persediaan tersebut akan dilaporkan sebagai beban atau merupakan komponen dari harga pokok penjualan, sebaliknya jika persediaan tersebut masih merupakan milik perusahaan (belum terjual) maka akan dilaporkan sebagai aktiva lancer perusahaan. Menurut PSAK no 14, jika barang dalam persediaan di jual, maka nilai tercatat persediaan tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut. Proses pengakuan nilai tercatat persediaan yang telah dijual sebagai beban menghasilkan pengaitan (matching) beban dengan pendapatan.
Oleh karena itu dalam menentukan besarnya laba harus dihitung terlebih dahulu besarnya harga pokok penjualan. Persediaan yang dibeli atau dibuat selama suatu periode ditambahkan ke persediaan awal dan jumlah biaya persediaan ini disebut dengan harga pokok barang tersedia untuk dijual. Pada akhir periode akuntansi, jumlah biaya yang tersedia untuk dijual dialokasikan antara persediaan yang masih tersisa (dicatat di neraca sebagai aktiva) dan persediaan yang dijual selama periode (dilaporkan dalam laba rugi sebagai biaya, harga pokok penjualan). Secara ringkas dapat kita ilustrasikan sebagai berikut:

¢ Penjualan barang dagangan XXX
¢ Harga pokok penjualan terdiri dari:
¢ Persediaan 1 Jan 2003 XXX
¢ Pembelian XXX
¢ (Retur pembelian) (XXX)
¢ (Potongan pembelian) (XXX)-
¢ Pembelian bersih XXX+
¢ Persediaan tersedia untuk dijual XXX
¢ Persediaan 31 Des 2003 (XXX)
¢ Harga pokok penjualan barang dagangan (XXX)
¢ Laba/(Rugi) kotor XXX

Dalam menentukan harga perolehan dan harga pokok persediaan akan dipengaruhi oleh sistem pencatatan dan system penilaian persediaan yang digunakan oleh perusahaan.

Rangkuman materi 1
Persediaan merupakan aktiva lancar perusahaan yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, masih dalam proses produksi untuk diselesaikan dan atau dalam perjalanan, serta dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Persediaan dapat dikelompokkan sebagai persediaan barang dagangan persediaan bahan baku, persediaan bahan pembantu, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi.
Dalam menentukan status kepemilikan harus memperhatikan syarat pengiriman barang, apakah FOB Shipping Point ataukah FOB Destination. Dalam menentukan laba/rugi perusahaan terlebih dahulu ditentukan harga pokok penjualan yang terdiri atas persediaan awal ditambah pembelian dikurangi retur dan potongan pembelian, kemudian dikurangi dengan persediaan akhir, dimana proses perhitungan ini akan dipengaruhi oleh metode pencatatan dan penilaian persediaan.

Tugas materi 1
1. Kumpulkan informasi dari perusahaan dagang yang ada di sekitar anda mengenai nama-nama barang yang merupakan persediaan bagi perusahaan tersebut.
2. Identifikasikan apakah didalamnya terdapat persediaan yang merupakan barang konsinyasi
3. Tanyakan kepada petugas perusahaan mengenai perlakuan perusahaan terhadap barang konsinyasi tersebut
4. Diskusikan temuan anda bersama kelompok anda, jika terdapat ketidaksesuaian dengan teori yang ganda peroleh, laporkan kepada fasilitator dan analisalah penyebab perbedaan tersebut.

Tes formatif 1
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan persediaan menurut PSAK dan berikan contoh!
2. Uraikan pengendalian internal persediaan yang seringkali dilakukan oleh perusahaan!
3. Jelaskan dua kondisi yang mempengaruhi saat pengakuan persediaan (status kepemilikan)!
4. Jelaskan perbedaan antara FOB Shipping Point dan FOB Destination dalam kaitannya dengan status kepemilikan barang!
5. Identifikasikan biaya-biaya yang harus dimasukkan dalam persediaan
6. Bagaimana menentukan harga pokok barang yang dijual?

Kunci jawaban tes formatif
1. Persediaan adalah aktiva:
a. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal.
b. Dalam proses produksi dan atau perjalanan atau
c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Contoh persediaan bagi toko buku adalah alat-alat tulis, majalah, dan buku-buku teks
2. Pengendalian internal persediaan umumnya sebagai berikut:
a. Perhitungan fisik persediaan dilakukan paling tidak satu tahun sekali, apapun sistem pencatatan persediaan yang digunakan
b. Membuat prosedur pembelian, penerimaan, dan pengiriman yang seefektif mungkin
c. Menyimpan persediaan dengan baik, untuk menghindarkan persediaan dari pencurian, kerusakan atau penyusutan nilai persediaan
d. Membatasi akses persediaan pada orang yang tidak mempunyai akses pada pencatatan persediaan
e. Menggunakan sistem perpetual untuk persediaan yang mempunyai nilai tinggi
f. Membeli persediaan dalam jumlah ekonomis
g. Menyimpan persediaan dalam jumlah yang memadai sehingga menghindari terjadi kekurangan persediaan yang menyebabkan hilangnya penjualan namun juga tidak menyimpan persediaan terlalu banyak sehingga menimbun dana pada persediaan.
3. Dua kondisi yang mempengaruhi status kepemilikan persediaan adalah adanya barang dalam perjalanan (goods in transit) dan barang konsinyasi.
4. Pengaruh syarat pengiriman FOB Shipping Point terhadap pengakuan persediaan yaitu persediaan diakui sebagai hak milik perusahaan begitu barang keluar dari gudang penjual, sedangkan pada FOB Destination pengakuan sebagai hak milik adalah bila barang sudah sampai ke gudang pembeli.
5. menurut PSAK no 14, biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai (present location and condition).
6. Harga pokok penjualan terdiri dari:

¢ Persediaan awal XXX
¢ Pembelian XXX
¢ (Retur pembelian) (XXX)
¢ (Potongan pembelian) (XXX)
¢ Pembelian bersih XXX
¢ Persediaan tersedia untuk dijual XXX+
¢ Persediaan akhir (XXX)
¢ Harga pokok penjualan barang dagangan XXX

C. KEGIATAN BELAJAR 2
MENENTUKAN NILAI PERSEDIAAN
Tujuan Pemelajaran 2
Setelah mempelajari kegiatan pemelajaran 2, diharapkan anda mampu:
1. Membedakan karakteristik kedua sistem pencatatan persediaan
2. Menjelaskan metode penilaian persediaan
3. Menjelaskan pelaporan persediaan di neraca
Uraian Materi 2
Sistem Pencatatan Persediaan
Untuk dapat menetapkan nilai persediaan pada akhir periode dan menetapkan biaya persediaan selama satu periode, sistem persediaan yang digunakan adalah:
1. Sistem Periodik (physical), yaitu pada setiap akhir periode dilakukan perhitungan secara phisik untuk menentukan jumlah persediaan akhir. Perhitungan tersebut meliputi pengukuran dan penimbangan barangbarang yang ada pada akhir suatu periode untuk kemudian dikalikan dengan suatu tingkat harga/biaya. Perusahaan yang menerapkan sistem periodik umumnya memiliki karakteristik persediaan yang beraneka ragam namun nilainya relatif kecil. Sebagai ilustrasi adalah kios majalah di sebuah pusat perkantoran dan pertokoan yang menjual berbagai jenis majalah, koran, alat tulis, aksesoris handphone, dan gantungan kunci. Jenis persediaan beraneka ragam namun nilainya relatif kecil sehingga tidaklah efisien jika harus mencatat setiap transaksi yang nilainya kecil namun frekuensi transaksi tinggi. Meskipun demikian sebenarnya pada saat ini alasan tersebut dapat diabaikan dengan adanya teknologi komputer yang meMudahkan pencatatan transaksi dengan frekuensi tinggi, misalnya seperti di toko retail.
2. Sistem Permanen (Perpetual), yaitu melakukan pembukuan atas persediaan secara terus menerus yaitu dengan membukukan setiap transaksi persediaan baik pembelian maupun penjualan. Sistem perpetual ini seringkali digunakan dalam hal persediaan memiliki nilai yang tinggi untuk mengetahui posisi persediaan pada suatu waktu sehingga perusahaan dapat mengatur pemesanan kembali persediaan pada saat mencapai jumlah tertentu. Misalnya persediaan alat rumah tangga elektronik (mesin cuci, kulkas, microwave) Perbedaan penggunaan kedua metode adalah pada akun yang digunakan untuk mencatat pembelian persediaan. Pada system pencatatan periodik pembelian persediaan dicatat dengan mendebit akun pembelian sehingga pada kahir periode akan dilakukan penyesuaian untuk mencatat harga pokok barang yang dijual dan melaporkan nilai persediaan pada akhir periode. Contoh, pembelian secara tunai selama tahun 2003 senilai Rp1.000.000,00. Persediaan akhir periode 2002 adalah Rp250.000,00. Perhitungan fisik menunjukkan saldo persediaan pada akhir 2003 adalah Rp300.000,00. Maka jurnal yang dibuat sbb:
Pembelian 1.000.000
Kas 1.000.000
(mencatat pembelian persediaan selama tahun2002)
Jurnal penyesuaian yang dibuat:
Harga pokok persediaan yang dijual 250.000
Persediaan (awal) 250.000
(menyesuaikan persediaan awal periode)
Harga pokok persediaan yang dijual 1.000.000
Pembelian 1.000.000
(menyesuaikan pembelian persediaan terhadap harga pokok)
Persediaan (akhir) 300.000
Harga pokok persediaan yang dijual 300.000
(menyesuaikan persediaan akhir periode)

Apabila perusahaan menggunakan system perpertual maka tidak diperlukan jurnal penyesuain seperti di atas karena pembelian dan penjualan langsung dicatat ke akun persediaan sehingga harga pokok persediaan yang dijual maupun nilai persediaan akhir sudah tercermin dalam buku besar.
Persediaan 1.000.000
Kas 1.000.000
(mencatat pembelian persediaan selama tahun 2002)
Harga pokok persediaan yang dijual 950.000
Persediaan 950.000
(mencatat harga pokok barang yang dijual)*
* perhitungan harga pokok barang yang dijual = 250.000+1.000.000-300.000

Penentuan Nilai Persediaan (Sistem Periodik)
Dalam penentuan nilai persediaan dapat digunakan beberapa metode, yaitu:
1. Metode Harga Pokok Spesifik
Metode ini digunakan untuk persediaan yang dapat diidentifikasikan secara individu dan dapat ditentukan asal pembeliannya serta harga pokoknya sesuai dengan harga beli yang sesungguhnya. Metode ini seringkali digunakan oleh perusahaan yang menjual barang dengan harga mahal dan setiap barang memiliki identitas, seperti mobil.
Ilustrasi 1: Menentukan nilai persediaan dengan metode harga pokok spesifik.
Mobil A Mobil B Mobil C
Pembelian Rp 40.000 Rp 50.000 Rp 180.000
Penjualan Rp 45.000
1) Jurnal untuk mencatat pembelian:
Pembelian (Mobil A) Rp 40.000,00
Pembelian (Mobil B) Rp 50.000,00
Pembelian (Mobil C) Rp 180.000,00
Kas ( Hutang) Rp 270.000,00
2) Jurnal untuk mencatat penjualan:
Kas ( Piutang ) Rp 45.000,00
Penjualan Rp 45.000,00
3) Menentukan persediaan akhir:
Mobil yang belum terjual adalah mobil B dan Mobil C yang nilai belinya adalah:
Rp. 50.000,00 + Rp. 180.000,00 = Rp. 230.000,00
4) Melaporan Persediaan dalam neraca akhir

2. Metode First In First Out (FIFO)/Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP) Di dalam metode ini biaya persediaan yang paling awal yang ada terlebih dahulu dibebankan sebagai harga pokok penjualan. Dengan demikian barang yang ada dalam persediaan dianggap berasal dari pembelianpembelian sebelumnya dianggap telah dijual atau dikeluarkan.
Ilustrasi 2: Menentukan nilai persediaan dengan metode FIFO/MPKP. Transaksi perdagangan PT. TOTO, Jakarta dalam bulan Januari 2002:
01/1 Saldo 10 unit @ Rp 10.000,00
10/1 Pembelian 25 unit @ Rp 20.000,00
20/1 Pembelian 5 unit @ Rp 30.000,00
Total 40 unit
25/1 Penjualan 30 unit
31/1 Sisa di gudang 10 unit (dihitung secara fisik di gudang).
Harga Pokok Penjualan untuk 30 unit yang terjual adalah:
10 unit @ Rp. 10.000,00 + 20 unit @ Rp. 20.000,00
Neraca akhir periode:
Persediaan (D) Rp. 230.000,00
Maka nilai persediaan atas dasar metode FIFO adalah:
5 unit @ Rp. 20.000,00 = Rp. 100.000,00
5 unit @ Rp. 30.000,00 = Rp. 150.000,00+
= Rp. 250.000,00

3. Metode Last In First Out (LIFO)/Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP) Metode yang didasarkan pada anggapan bahwa biaya persediaan yang paling akhir yang akan terlebih dahulu dibebankan sebagai harga pokok penjualan. Jadi metode LIFO adalah kebalikan dari metode FIFO.
Ilustrasi 3: Menentukan nilai persediaan dengan metode LIFO/MTKP.
Transaksi perdagangan PT. TATA, Jakarta dalam bulan Januari 2002:
01/1 Saldo 10 unit @ Rp 10.000,00
10/1 Pembelian 25 unit @ Rp 20.000,00
20/1 Pembelian 5 unit @ Rp 30.000,00
Total 40 unit
25/1 Penjualan 30 unit
31/1 Sisa di gudang 10 unit (dihitung secara fisik di gudang)
Harga Pokok Penjualan untuk 30 unit yang terjual adalah:
5 unit @ Rp. 30.000,00 + 25 unit @ Rp. 20.000,00
Maka nilai persediaan atas dasar metode LIFO adalah:
10 unit @ Rp. 10.000,00 = Rp. 100.000,00

4. Metode Rata-rata atau Rata-rata Tertimbang
Dalam metode rata-rata tertimbang, biaya rata-rata barang ditentukan
dengan cara membagi jumlah harga barang yang tersedia untuk dijual total
kuantitasnya, atau dengan rumus:

Biaya rata-rata per unit = Perpersediaan awal + Pembelian
Total Unit
Ilustrasi 4: Menentukan nilai persediaan dengan metode Rata-rata Tertimbang.
Transaksi perdagangan PT. BABBU, Jakarta bulan Januari 2000:
01/1 Saldo 10 unit @ Rp 10.000,00 = Rp. 100.000,00
10/1 Pembelian 25 unit @ Rp 20.000,00 = Rp. 500.000,00
20/1 Pembelian 5 unit @ Rp 30.000,00 = Rp. 150.000,00
Total 40 unit = Rp. 750.000,00
Harga Rata-rata Tertimbang = Rp. 750.000,00 = Rp. 18.750,00
40
25/1 Penjualan 30 unit @ Rp. 18.750,00
31/1 Sisa di gudang 10 unit (dihitung secara fisik di gudang)
Maka nilai persediaan atas dasar metode Rata-rata Tertimbang adalah:
10 unit @ Rp. 18.750,00 = Rp. 187.500,00

Pengaruh metode FIFO, LIFO, Rata-rata Tertimbang terhadap laba.
Misalnya, penjualan 30 unit @ Rp. 40.000,- maka dapat dibuat perbandingan berikut di bawah:
FIFO
Penjualan 30 unit @ Rp 40.000 per unit=Rp 1.200.000,00 Rp 1.200.000,00 Rp 1.200.000,00
LIFO
HP barang yang dapat dijual=Rp 750.000,00 Rp 750.000,00 Rp 750.000,00
Rata-rata Tertimbang
Persediaan akhir 10 unit=Rp 250.000,00 Rp 100.000,00 Rp 187.500,00
Keteranagn:
Harga penjualan =Rp 500.000,00 Rp 650.000,00 Rp 562.500,00
Laba kotor =Rp 700.000,00 Rp 550.000,00 Rp 637.500,00
” Untuk keperluan pembukuan perusahaan, pemilihan antara metode FIFO,
LIFO dan Rata-rata tertimbang tergantung pada kebijakan manajemen. Peraturan perpajakan di Indonesia hanya membolehkan metode FIFO atau rata-rata tertimbang.

Rangkuman Materi 2
Pencatatan persediaan dapat dilakukan dengan system periodic dan perpetual. Perbedaan kedua system adalah pada system periodic pencatatan dilakukan pada akhir periode sedangkan pada sistem perpetual pencatatan dilakukan setiap saat terjadinya transaksi. Dalam penentuan nilai persediaan dapat digunakan beberapa metode, yaitu Metode Harga Pokok Spesifik, Masuk Pertama Keluar Pertama, Masuk
Terakhir Keluar Pertama, Metode Rata-rata atau Rata-rata Tertimbang, Metode
Rata-rata atau Rata-rata Tertimbang, dan Metode Taksiran.

Tugas Materi 2
1. Dapatkan informasi dari 10 perusahaan mengenai metode pencatatan yang digunakan oleh perusahaan secara berkelompok
2. Kelompokkan perusahaan tersebut berdasarkan metode pencatatan yang digunakan
3. Identifikasi karakteristik (jenis persediaan dan harga barang) masing-masing perusahaan
4. Buatlah kesimpulan karakteristik perusahaan dikaitkan dengan metode pencatatannya
5. Laporkan hasil diskusi anda kepada fasilitator.

Tes Formatif 2
1. Jelaskan perbedaan kedua sistem pencatatan persediaan!
2. Jelaskan metode-metode yang digunakan untuk menentukan nilai persediaan!
3. Transaksi untuk PT ASA (Perusahaan dagang bahan makanan) selama bulan Januari 2002 adalah sebagai berikut.
Januari 01 Saldo 100 Kg @ Rp 20.000,00
05 Pembelian 500 kg @ Rp 20.000,00
06 Penjualan 450 kg @
10 Pembelian 600 kg @ Rp 21.000,00
15 Penjualan 500 kg
20 Pembelian 800 kg @ Rp 23.000,00
25 Penjualan 750 kg
Hitunglah nilai persediaan pada 31 Januari 2002 dengan sistem
periodik dengan menggunakan FIFO, LIFO, dan rata-rata tertimbang.

Kunci Jawaban Tes Formatif 2
1. Perbedaan penggunaan kedua metode adalah pada akun yang digunakan untuk mencatat pembelian persediaan. Pada system pencatatan periodic pembelian persediaan dicatat dengan mendebit akun pembelian sehingga pada kahir periode akan dilakukan penyesuaian untuk mencatat harga pokok barang yang dijual dan melaporkan nilai persediaan pada akhir periode. Apabila perusahaan menggunakan system perpertual maka tidak diperlukan jurnal penyesuain.
2. Metode Rata-rata atau Rata-rata Tertimbang Masuk Terakhir Keluar Pertama, dan Metode Rata-rata atau Rata-rata Tertimbang
3. Sistem Periodik (Metode FIFO).
Transaksi perdagangan PT. ASA, Jakarta dalam bulan Januari 2003:
1/1 Saldo 100 Kg @ Rp 20.000,00
5/1 Pembelian 500 Kg @ Rp 22.000,00
10/1 Pembelian 600 Kg @ Rp 21.000,00
20/1 Pembelian 800 Kg @ Rp 23.000,00
Total 2000 Kg
Total Penjualan 1700 Kg
31/1 Sisa di gudang 300 Kg (dihitung secara fisik di gudang).
Maka nilainya adalah:
300 Kg x Rp. 23.000,00 = Rp. 6.900.000,00
Sistem Periodik (Metode LIFO)
Transaksi perdagangan PT. ASA, Jakarta dalam bulan Januari 2003:
1/1 Saldo 100 Kg @ Rp 20.000,00
5/1 Pembelian 500 Kg @ Rp 22.000,00
10/1 Pembelian 600 Kg @ Rp 21.000,00
20/1 Pembelian 800 Kg @ Rp 23.000,00
Total 2000 Kg
Total Penjualan 1700 Kg
31/1 Sisa di gudang 300 Kg (dihitung secara fisik di gudang).
Maka nilainya adalah:
100 Kg x Rp. 20.000,00 = Rp. 2.000.000,00
200 Kg x Rp. 22.000,00 = Rp. 4.400.000,00
300 Kg = Rp. 6.600.000,00
Sistem Periodik (Metode Rata-rata Tertimbang)
Transaksi perdagangan PT. ASA, Jakarta dalam bulan Januari 2003:
1/1 Saldo 100 Kg @ Rp 20.000,00 = Rp. 2.000.000,00
5/1 Pembelian 500 Kg @ Rp 22.000,00 = Rp. 11.000.000,00
10/1 Pembelian 600 Kg @ Rp 21.000,00 = Rp. 12.600.000,00
20/1 Pembelian 800 Kg @ Rp 23.000,00 = Rp. 18.400.000,00
Total 1000 Kg = Rp. 44.000.000,00
Harga Rata-rata = Rp. 44.000.000,00 = Rp. 22.000,00
2000
31/1 Sisa di gudang 300 Kg (dihitung secara fisik di gudang).
Maka nilai persediaan per 31/1 adalah:
300 Kg x Rp. 22.000,00 = Rp. 6.600.000,00

Lembar Kerja
(a) Peralatan
Peralatan yang diperlukan untuk kegiatan belajar bagian ini, yakni:
” Alat-alat tulis, yaitu buku catatan, pensil, ballpoint, penghapus, penggaris.
” Kalkulator.
” Buku literatur akuntansi keuangan yang relevan.
(b) Bahan-bahan
Bahan-bahan yang diperlukan untuk kegiatan pembelajaran ini adalah:
” Buku harian (Jurnal).
(c) Langkah-langkah Menentukan Nilai Persediaan
Dalam menentukan nilai persediaan maka langkah-langkahnya adalah:
” Mencatat transaksi pembelian dan penjualan barang dagang.
” Menentukan nilai persediaan akhir dengan metode tertentu.
” Melaporkan nilai persediaan akhir dalam laporan keuangan.

D. KEGIATAN BELAJAR 3
PENCATATAN PERSEDIAAN PADA KARTU PERSEDIAAN
Tujuan Pemelajaran 3
Setelah mempelajari kegiatan pemelajaran menentukan nilai persediaan dengan system perpetual dalam bagian satu, diharapkan anda:
1. dapat menjelaskan fungsi kartu persediaan
2. dapat mencatat transaksi persediaan ke dalam kartu persediaan

Uraian Materi 3
Penentuan Kuantitas Persediaan Sistem Perpetual
Dalam sistem perpetual, untuk mengetahui jumlah persediaan yang ada tidak perlu menghitung secara fisik terhadap sisa barang yang ada di gudang. Persediaan barang pada setiap saat bisa diketahui dari pembukuan, karena setiap transaksi yang mempengaruhi besarnya persediaan langsung dicatat ke dalam akuntansi persediaan sebesar harga pokoknya. Sistem perpetual memiliki karakteristik:
” Mencatat setiap mutasi.
” Akun persediaan menunjukkan nilai persediaan setiap saat.
” Memberikan tingkat kontrol yang akurat.
” Setiap transaksi penjualan barang, harga pokok barang yang di jual dihitung dan dicatat pada debet akun “Harga Pokok Penjualan”.
” Untuk perusahaan yang memiliki nilai persediaan yang tinggi.

Penentuan Nilai Persediaan (Sistem Perpetual)
Dalam sistem perpetual, untuk mencatat setiap transaksi yang mempengaruhi besarnya persediaan digunakan kartu persediaan. Dengan kartu ini maka dapat diketahui nilai dan kuantitas setiap jenis persediaan yang dimiliki perusahaan.
Contoh Penggunaan Kartu Persediaan:
KARTU PERSEDIAAN
Nama Perusahaan : PD TATA
No. Kode Barang :
Nama Barang : Bahan Makanan
No. Kode rek :
Lokasi : Jakarta
Metode : MPKP (FIFO) dlm Ribuan Rp
Tanggal Pembelian Penjualan Saldo
januari Unit harga total unit harga total unit harga total
1 100 20 2.000
5 500 22 11.000 100 20 2.000
500 22 11.000
10 600 21 12.600 100 20 2.000
500 22 11.000
600 21 12.600
20 800 23 18.400 100 20 2.000
500 22 11.000
600 21 12.600
800 23 18.400
22 100 20 2.000
500 22 11.000
600 21 12.600
500 23 11.500 300 23 6.900
31 300 23 6.900
Dalam sistem perpetual, setiap transaksi yang mempengaruhi besarnya persediaan, langsung dicatat ke dalam akun persediaan sebesar harga pokoknya.
Contoh:
1. Transaksi yang terjadi pada PT TATA selama bulan maret 2003
adalah sebagai berikut:
Persediaan Rp 51.000.000,00
Pembelian kredit
(setelah dikurangi potongan dan retur pembelian) Rp 300.000.000,00
Penjualan kredit
(setelah dikurangi potongan dan retur penjualan) Rp 450.000.000,00
Harga pokok penjualan…………………………………….Rp 289.000.000,00

Ayat Jurnal:
1. Mencatat pembelian secara kredit:
Persediaan Rp 300.000.000,00
Hutang Dagang Rp 300.000.000,00
2. Mencatat penjualan secara kredit:
Piutang Dagang Rp 450.000.000,00
Penjualan Rp 450.000.000,00
3. Mencatat penjualan harga pokok barang yangdijual:
Harga pokok penjualan Rp 289.000.000,00
Persediaan Rp. 289.000.000,00
4. Pelaporan: Neraca pada tanggal 31 Desember
Persediaan : Rp 51.000.000,00
Penjualan : Rp 450.000.000,00
Harga Pokok Penjualan : Rp 289.000.000,00
Marjin Laba Kotor : Rp 322.000.000,00
Seperti halnya dalam sistem periodik, dalam sistem perpetual penentuan nilai persediaan didasarkan pada metode harga pokok spesifik, MPKP, MTKP dan rata-rata tertimbang. Contoh penerapan dalam sistem perpetual adalah sebagai berikut:

Ilustrasi 1: Menentukan nilai persediaan dengan metode harga pokok spesifik.
Mobil A Mobil B Mobil C
Pembelian Rp 40.000 Rp 50.000 Rp 180.000
Penjualan Rp 45.000
1) Jurnal untuk mencatat pembelian:
Persediaan (Mobil A) Rp 40.000,00
Persediaan (Mobil B) Rp 50.000,00
Persediaan (Mobil C) Rp 180.000,00
Kas (Hutang) Rp 270.000,00
2) Jurnal untuk mencatat penjualan:
Kas (Piutang) Rp 45.000,00
Penjualan Rp 45.000,00
Harga Pokok Penjualan Rp 40.000,00
Persediaan Rp 40.000,00
Ilustrasi 2: Menentukan nilai persediaan dengan metode FIFO/MPKP. Dalam pencatatan dengan metode Perpektual, setiap transaksi penjualan barang, harga pokok barang yang dijual harus dihitung dan dicatat debet pada akuntansi “HARGA POKOK PENJUALAN”. Misalnya data persediaan barang PD. MEKAR ABADI selama bulan Mei 2002 melakukan transaksi bisnis sebagai berikut:
Mei 01 Persediaan awal 300 unit @ Rp 40.000,00
5 Pembelian 500 unit @ Rp 41.000,00
10 Penjualan 600 unit @ Rp 50.000,00
17 Pembelian 200 unit @ Rp 42.000,00
22 Pembelian 350 unit @ Rp 42.000,00
28 Penjualan 500 unit @ Rp 52.000,00
30 Pembelian 300 unit @ Rp 43.000,00
Menurut metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First In First Out) harga barang yang dijual dihitung sbb:
Harga Pokok Barang yang dijual tanggal 10 Mei, sebanyak 600 unit terdiri dari atas:
” ?300 unit dari persediaan awal.
Harga Pokok Barang tsb 300 x Rp 40.000,00 = Rp 12.000.000,00
” Kekurangannya sebanyak 80 unit, diambil dari barang yang dibeli 5 Mei.
Harga Pokok Barang tsb. 300 x Rp 41.000,00 = Rp 12.300.000,00 (+) Jumlah = Rp 24.300.000,00.
Harga Pokok Barang yang dijual tanggal 28 Mei, sebanyak 500 unit terdiri atas:
” 200 unit dari sisa pembelian tanggal 5 Mei
Harga Pokok Barang tsb. 200 x Rp 42.000,00 = Rp 8.200.000,00
” ?Kekurangan diambil dari yang dibeli tanggal 17
Harga Pokok Barang tsb. . 200 x Rp 42.000,00 = Rp 8.200.000,00
” ?100 unit diambil dari yang dibeli tanggal 22
Harga Pokok Barang tsb. 100 x Rp 42.000,00 = Rp 4.250.000,00 (+)Jumlah = Rp 20.850.000,00
Berdasarkan perhitungan di atas, jumlah harga pokok barang dijual pada bulan
Mei 2000 adalah: Rp 24.300.000,00 + Rp 20.850.000,00 = Rp 45.150.000,00
Mutasi barang ini akan tampak dalam kartu persediaan sebagai berikut:

KARTU PERSEDIAAN
PD . MEKAR ABADI
Barang: mobil
Satuan: Unit
Metode: MPKP(FIFO) dlm Ribuan Rp
Tanggal Pembelian Penjualan Saldo
Mei/00 Unit harga total unit harga total unit harga total
1 300 40 12.000
5 500 41 20.500 300 40 12.000
500 41 20.500
10 300 40 12.000
300 41 12.300 200 41 8.200
17 200 42 8.400 200 41 8.200
200 42 8.400
22 350 42 14.700 200 41 8.200
200 42 8.400
350 42 14.700
28 200 41 8.200
200 42 8.400
100 42 4.200 250 42 10.500
30 300 43 12.900 250 42 10.500
300 43 12.900
31 250 42 10.500
300 43 12.900

Menurut metode MPKP dan metode perpektual, dalam kartu persediaan tampak harga pokok penjualan pada bulan Mei 2002 Rp 45.150.000,00. Sementara persediaan pada 31 Mei berjumlah Rp 23.400.000,00 yang terdiri atas 250 unit @ Rp 42.000,00 dan 300 unit @ Rp 43.000,00.

Ilustrasi 3: Menentukan nilai persediaan dengan metode LIFO/MTKP. Masih terkait dengan contoh data persediaan barang PD. MEKAR ABADI selama bulan Mei 2000, maka dengan metode ini Harga Pokok barang yang dijual dihitung sebagai berikut:
Harga pokok barang yang dijual pada tanggal 10 sebanyak 600 unit terdiri atas:
” 500 unit dari pembelian tanggal 5, =500 x Rp 41.000,00 Rp 20.500.000,00
” kekurangannya diambil dari persediaan 100 x Rp 40.000,00= Rp 4.000.000,00 Jumlah Rp 24.500.000,00
Harga pokok barang yang dijual pada tanggal 28 Mei sebanyak 500 unit terdiri
atas:
” ?350 unit yang dibeli tanggal 22, =350 x Rp 42.000,00 Rp 14.875.000,00
” ?kekurangannya diambil dari pembeli tanggal 17:
150 x Rp 42.000,00 =Rp 6.300.000,00 Jumlah Rp 21.175.000,00
Mutasi barang ini tampak dalam kartu persediaan sebagai berikut:
KARTU PERSEDIAAN
PD . MEKAR ABADI
Barang: mobil
Satuan: Unit
Metode: MTKP(LIFO) dlm Ribuan Rp
Tanggal Pembelian Penjualan Saldo
Mei/00 Unit harga total unit harga total unit harga total
1 300 40 12.000
5 500 41 20.500 300 40 12.000
500 41 20.500
10 500 41 20.500
100 40 4.000 200 40 8.000
17 200 42 8.400 200 41 8.200
200 42 8.400
22 350 42 14.700 200 41 8.200
200 42 8.400
350 42 14.700
28 350 42 14.700
150 42 6.300 200 41 8.200
50 42 2.100
30 300 43 12.900 200 41 8.200
50 42 2.100
300 43 12.900
31 200 41 8.200
50 42 2.100
300 43 12.900

Ilustrasi 4: Menentukan nilai persediaan dengan metode Rata-rata Bergerak. Masih terkait dengan contoh data persediaan barang PD. MEKAR ABADI selama bulan Mei 2000, maka dengan metode ini harga beli rata rata persatauan akan berubah setiap terjadi transaksi pembelian barang. Harga rata-rata persatauan barang yang dijual adalah harga rata rata persatuan yang berlaku pada saat terjadi transaksi penjualan. Dari data contoh di atas, harga pokok yang dijual pada tanggal 10 Mei 2002, sebanyak 600 unit dihitung sebagai berikut:
Persediaan 1 Mei 300 unit @ Rp 40.000,00 = Rp 12.000.000,00
Pembelian 5 Mei 500 unit @ Rp 41.000,00 = Rp 20.500.000,00 (+)
Jumlah 800 unit = Rp 32.500.000,00
Harga rata rata tiap unit = = Rp = 40.625,00
Jadi harga pokok penjualan tanggal 10 Mei 2000,
Sebesar 600 x Rp 40.625,00 = Rp 24.375.000,00

Ilustrasi 5: Menentukan nilai persediaan dengan metode Pengganti. Dengan Metode ini persediaan dinilai berdasarkan harga terendah antara harga beli dengan harga pasar. Metode ini sering disebut dengan singkatan COMWIL (cost market whice ever is lower). Dalam penerapan metode ini, harga pasar pada saat penilaian persediaan, harus selalu diperhatikan.
Contoh:
Misalnya persedian barang PD. MEKAR ABADI pada 31 Desember 2002, sebanyak 30.000 kg. Dengan total harga beli Rp 60.000.000,00 harga pasar yang sama pada tanggal 31/12′ 2002, Rp 2.200,00 tiap kg. Dengan demikian nilai persediaan pada 31/12′ 2000, adalah sebagai berikut:
– Menurut harga beli, Rp 60.000.000,00
– Menurut harga pasar, 30.000 x Rp 2.200,00 = Rp 66.000.000,00
Dari data di atas terlihat bahwa harga terendah dari kedua tersebut adalah harga pasar yaitu sebesar Rp 60.000.000,00 sehingga nilai persediaan yang dilaporkan dalam neraca adalah sebesar Rp 60.000.000,00. Metode penilaian harga terendah antara harga beli dan harga pasar (COMWIL), dapat diterapkan untuk:
1. Setiap jenis barang
2. Masing masing kelompok persediaan barang
3. Diterapkan kepada seluruh persediaan barang

Sebagai contoh, PD MEKAR ABADI pada 31 Desember 2002 memiliki berbagai
macam persediaan yang telah dikelompokkan sebagai berikut:
Jenis barang, Harga beli (cost), Harga pasar
Harga terendah antara harga beli dengan harga pasar perjenis barang
Kelompok A
Barang A – 1
Barang A – 2
Jumlah
Kelompok B
Barang B – 1
Barang B – 2
Jumlah
Total A + B
Rp 16.400.000,00
Rp 10.800.000,00
Rp 27.200.000,00
Rp 19.200.000,00
Rp 15.680.000,00
Rp 34.880.000,00
Rp 62.080.000,00
Rp 15.200.000,00
Rp 11.568.000,00
Rp 26.768.000,00
Rp 18.600.000,00
Rp 16.240.000,00
Rp 34.840.000,00
Rp 61.608.000,00
Rp. 15.200.000,00
Rp. 10.800.000,00
Rp. 26.000.000,00
Rp. 18.600.000,00
Rp. 15.680.000,00
Rp. 60.280.000,00
Rp. 60.280.000,00
Penerapan metode harga terendah antara harga beli dengan harga pasar “COMWIL” terhadap kelompok kelompok persediaan di atas dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Di Terapkan kepada Setiap Jenis Barang Harga terendah untuk setiap jenis barang pada daftar di atas:
” Barang A1 Harga pasar Rp 15.200.000,00
” Barang A2 Harga pasar Rp 10.800.000,00
” Barang B1 Harga pasar Rp 18.600.000,00
” Barang B2 Harga pasar Rp 15.680.000,00 (+) Rp 60.280.000,00
Dengan demikian nilai persediaan yang dilaporkan dalam neraca 31 Desember 2002 sebesar Rp 60.280.000,00
2. Diterapakan terhadap masing masing kelompok persediaan barang.
Harga terendah untuk setiap kelompok barang di atas adalah:
– Kelompok A Harga pasar Rp 26.768.000,00
– Kelompok B Harga pasar Rp 34.840.000,00 (+) Rp 61.608.000,00
a) Jadi nilai persediaan yang dilaporkan dalam neraca Rp 61.608.000,00
b) Diterapakan terhadap seluruh persediaan barang pada daftar di atas adalah harga pasar sebesar Rp 61.608.000,00 sehingga yang dilaporkan Rp 61.608.000,00.

Memperkirakan Persediaan
Karena pertimbangan praktis dan biaya, tidak semua perusahaan menghitung persediaan akhirnya pada setiap akhir periode. Walaupun demikian perusahaan tersebut tetap memerlukan laporan keuangan yang dibuat per periode. Karena itu sering perusahaan harus memperkirakan nilai dari persediaan yang dimilikinya. Banjir atau kebakaran dapat menghancurkan persediaan barang, dan untuk mendapatkan ganti rugi dari perusahaan asuransi, perusahaan tersebut harus dapat memperkirakan nilai persediaan tanpa harus menghitung persediaan akhir yang dimilikinya. Metode yang biasa dipergunakan untuk memperkirakan persediaan akhir adalah metode marjin kotor dan metode eceran. Kedua metode ini sering dipakai dalam praktik.

A. Metode Marjin Kotor
Metode marjin kotor adalah metode yang digunakanuntuk memperkirakan nilai
persediaan akhir yang didasarkan pada harga pokok penjualan.
” Persediaan Awal+ Pembelian Bersih = Harga Pokok Persediaan yang dapat dijual
” Persediaan Awal-Persediaan Akhir = Harga Pokok Penjualan
Dengan mengubah persamaan diatas, maka akan diperoleh model yang
berguna untuk memperkirakan dari persediaan akhir yang kita miliki.
” Persediaan Awal+ Pembelian Bersih = Harga Pokok Persediaan yang dapat dijual
” Persediaan Awal-Harga Pokok Penjualan = Persediaan Akhir

Misalkan persediaan barang perusahaan habis terbakar. Untuk mendapatkan penggantian asuransi, perusahaan tersebut harus dapat memperkirakan biaya persediaan akhir yang dimiliki pada saat kebakaran. Jika kebakaran tersebut tidak menghancurkan data akuntansi yang dimiliki perusahaan, maka data mengenai persediaan awal dan pembelian netto dapat diambil langsung dari data akuntansi. Data mengenai penjualan, penjualan retur, dan potongan penjualan menunjukan penjualan netto yang dilakukan perusahaan sampai saat terjadinya kebakaran. Dengan menggunakan tingkat marjin kotor(marjin kotor dibagi penjualan netto)yang biasanya didapatkan perusahaan, kita dapat memperkirakan berapa harga pokok penjualan yang kita perkirakan tadi dari harga pokok persediaan yang dapat dijual untuk mendapatkan perkiraan biaya persediaan akhir. Gambar di bawah
menggambarkan cara penggunaan metode marjin kotor.
Langkah 1 :
Persediaan Awal + Pembelian Bersih = Harga Pokok Barang Tersedia Dijual
Langkah 2:
Harga Pokok Barang Tersedia Dijual – Harga Pokok Persediaan = Penjualan akhir
_memperkirakan persediaan akhir_
Persediaan awal ………………………………… Rp. 14.000.000
Pembelian bersih ……………………………….. Rp. 66.000.000
Harga pokok persediaan yang dapat dijual………Rp. 80.000.000
Harga pokok penjualan…………………………..
Penjualan bersih…………………………………..Rp 100.000.000
Dikurang:
Perkiraan Laba kotor 40%………………. Rp. 40.000.000
Perkiraan Harga pokok penjualan……….. Rp. 60.000.000
Perkiraan biaya persediaan akhir………… Rp. 20.000.000

Akuntan, manager, dan juga auditor biasanya menggunakan metode marjin kotor ini untuk memeriksa tingkat kewajaran dari persediaan yang kita hitung secara fisik. Metode ini dapat menolong untuk menemukan kesalahan – kesalahan saat pada perhitungan fisik

B. Metode eceran
Pengecer seperti toko kecil sampai departement store biasanya menggunakan metode eceran untuk memperkirakan biaya persediaan akhirnya. Seperti metode marjin kotor, metode eceran ini juga didasarkan pada persamaan harga pokok penjualan. Namun, metode eceran mengharuskan perusahaan untuk mencatat pembelian persediaan dengan dua harga, yang pertama pada harga pembeliaan, seperti yang dicatat pada jurnal- jurnal dan buku pembelian, sedangkan kedua dicatat pada harga eceran seperti yang tercatat pada price tag. Hal ini tidak terlalu merepotkan perusahaan, karena biasanya perusahaan eceran menentukan harga eceran dengan menambahkan mark up tertentu pada harga belinya. Misalkan suatu departement store membeli sabuk pria seharga Rp 6.000 kemudian menambahka mark up sebesar Rp 4.000, sehingga harga jual eceran dari sabuk tersebut adlah Rp 10.000. dalam metode eceran ini, nilai persediaan akhir dari perusahaan didapatkan dengan bekerja mundur dari harga eceran untuk mendapatkan harga belinya.
Harga beli = Rp 24.000
Harga jual = Rp 40.000
Persediaan awal = Rp 144.000
Pembelian bersih = Rp 240.000
Harga pokok persediaan yang dapat dijual =168.000 & 280.000
Rasio Rp 168.000/280.000=0,60
Dikurangi:
Penjualan bersih(pada harga jual) ( 230.000)
Persediaan akhir(pada harga jual) Rp 50.000
Persediaan akhir(pada harga beli) (Rp 50.000 x 0,6) Rp 30.000
Dari data di atas, Catatan akuntansi menunjukkan bahwa harga pokok barang yang dapat dijual besarnya Rp 168.000 (Pada harga beli) dan Rp 280.000 (pada harga eceran).Rasio dari kedua harga tersebut adalah 0,60 (Rp 168.000/280.000).Untuk mudahnya ,dalam bab ini kita membulatkan perhtungan sampai dua angka dibelakang koma.bila kita mengurangkan penjualan netto (harga eceran) dengan harga pokok dari barang yang dapat dijual (juga pada harga eceran) kita akan mendapatkan nilai persediaan akhir berdasarkan harga eceran. Nilai persediaan akhir inilah yang akan kita kalikan dengan 0,60 untuk mendapatkan nilai persediaan akhir berdasarkan harga beli.
Misalkan perusahaan pengecer menpunyai empat kategori persediaan, dimana setiap pesediaan memiliki rasio yang berbeda-beda. Bagaimanakah cara perusahaan tersebut menggunakan metode eceran untuk memperkirakan harga pokok persediaan akhir yang dimilikinya?. Terapkan metode eceran secara terpisah pada setipa kategori dari persediaan , kemudian dengan menggunakan rasio yang spesifik untuk keempat kategori tersebut ,kita dapat mencari nilai persediaan akhir berdasarkan harga perolehan . Setelah itu jumlahkan Keempat Jenis persediaan tersebut untuk mendapatkan total biaya persediaan akhir perusahaan.
Walaupun metode eceran ini hanya merupakan teknik untuk memperkirakan harga pokok persediaan, tapi banyak perusahaan yang menggunakan metode ini utnuk menilai biaya persediaan akhir yang akan tercantum dineraca. Perusahaan – perusahaan tersebut biasanya menghitung persediaan yang dimilikinya sepanjang tahun, tapi perhitungan tersebut dilakukan berdasarkan harga eceran.

Penyajian Persediaan Di Laporan Keuangan
Laporan keuangan harus mengungkapkan:
a. kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan, termasuk rumus biaya yang dipakai
b. total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut klasifikasi yang sesuai bagi perusahaan.
c. Jumlah tercatat persediaan yang dicatat sebesar nilai realisasi bersih.
d. Jumlah dari setiap pemuliahn dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai penghasilan selama periode.
e. Kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang diturunkan.
f. Nilai tercatat persediaan yang diperuntukan sebagai jaminan kewajiban.

Ringkasan Materi 3
Dalam sistem perpetual, untuk mencatat setiap transaksi yang mempengaruhi besarnya persediaan digunakan kartu persediaan. Dengan kartu ini maka dapat diketahui nilai dan kuantitas setiap jenis persediaan yang dimiliki perusahaan.

Tugas Materi 3
1. Lakukan survei ke perusahaan yang melakukan pencatatan persediaan secara perpetual
2. Mintalah informasi kepada petugas perusahaan mengenai kartu persediaan yang digunakan dan bagaimana proses pencatatannya
3. Diskusikan temuan anda dengan kelompok apakah kartu persediaan tersebut dapat digunakan untuk mencari informasi terbaru mengenai posisi persediaan
4. Laporkan temuan atau hasil diskusi kepada fasilitator

Tes Formatif 3
Transaksi untuk PT TRISAKTI (perusahaan dagang bahan makanan) selama bulan Januari 1999 adalah sebagai berikut:
Januari 01 Saldo 100 Kg @ Rp. 20.000,00
05 Pembelian 500 Kg @ Rp. 22.000,00
06 Penjualan 450 Kg @
10 Pembelian 600 Kg @ Rp. 21.000,00
15 Penjualan 500 Kg
20 Pembelian 800 Kg @ Rp. 23.000,00
25 Penjualan 750 Kg
Diminta:
Menghitung nilai persediaan pada 30 Januari 2003 dengan sistem perpetual
dengan menggunakan metode:
a. FIFO
b. LIFO
c. Rata-rata Tertimbang.

Kunci Jawaban Tes Formatif 3
1. Sistem Perpetual (Metode FIFO)
Mutasi barang ini akan tampak dalam kartu persediaan sebagai berikut:

Barang: –
PD . TRISAKTI JAKARTA
Satuan: Unit
Metode: MPKP(FIFO)
KARTU PERSEDIAAN dlm Ribuan Rp
Tanggal Pembelian Penjualan Saldo
jan/99 Unit harga total unit harga total unit harga total
1 100 20 2.000
5 500 22 11.000 100 20 2.000
500 22 11.000
6 100 20 2.000
350 22 7.700 150 22 3.300
10 600 21 12.600 150 22 3.300
600 21 12.600
15 150 22 3.300
350 21 7.350 250 21 5.250
20 800 23 18.400 250 21 5.250
800 23 18.400
25 250 21 5.250
500 23 11.500 300 23 6.900
31 300 23 6.900

2. Sistem Perpetual (Metode LIFO)
Mutasi barang ini akan tampak dalam kartu persediaan sebagai berikut:
Barang: –
PD . TRISAKTI JAKARTA Satuan: Unit
Metode: MTKP(LIFO)
KARTU PERSEDIAAN dlm Ribuan Rupiah
Tanggal Pembelian Penjualan Saldo
jan/99 Unit harga total unit harga total unit harga Total
1 100 20 2.000
5 500 22 11.000 100 20 2.000
500 22 11.000
6 450 22 9.900 100 20 2.000
50 22 1.100
10 600 21 12.600 100 20 2.000
50 22 1.100
600 21 12.600
15 500 21 10.500 100 20 2.000
50 22 1.100
100 21 2.100
20 800 23 18.400 100 20 2.000
50 22 1.100
100 21 2.100
800 23 18.400
25 750 23 17.250 100 20 2.000
50 22 1.100
100 21 2.100
150 23 3.450

3. Sistem Perpetual (Metode Rata-rata Bergerak)
Mutasi barang ini akan tampak dalam kartu persediaan sebagai berikut:
Barang: –
PD . TRISAKTI JAKARTA
Satuan: Unit
Metode: Rata-rata bergerak
KARTU PERSEDIAAN dlm Ribuan Rp
Tanggal Pembelian Penjualan Saldo
jan/99 Unit harga total unit harga total unit harga Total
1 100 20 2.000
5 500 22 11.000 600 21,67 13.000
6 450 21,67 9.751,5 150 21,67 3.250,5
10 600 21 12.600 750 21,134 15.850,5
15 500 21,134 10.567 250 21.134 5.283,5
20 800 23 18.400 1.050 22,56 23.683,5
25 750 22,56 16.920 300 22,545 6.763,5
31 300 22,545 6.763,5

Lembar kerja
a. Peralatan
– Peralatan yang diperlukan untuk kegiatan belajar antara lain:
– Alat-alat Tulis, yaitu Buku Catatan, Pensil, Ballpoint, Penghapus,
– penggaris.
– Kalkulator.
– Buku literatur akuntansi Keuangan yang relevan.
b. Bahan-bahan. Bahan-bahan yang diperlukan untuk kegiatan pembelajaran ini adalah:
– Kartu persediaan.
– Buku harian (Jurnal).
– Langkah-langkah Menentukan Nilai Persediaan.
Dalam menentukan nilai persediaan maka langkah-langkahnya adalah:
– Mencatat transaksi pembelian dan penjualan barang dagang ke dalam kartu persediaan dengan metode tertentu.
– Melaporkan nilai persediaan akhir dalam laporan keuangan.

BAB III. EVALUASI

A. Teori
1. Berikanlah pengertian Persediaan di dalam perusahaan dagang dan di dalam perusahaan industri!
2. Sebutkan 2 sistem pencatatan persediaan dan jelaskan!
3. Apakah akibatnya terhadap laba pada satu periode bila persediaan akhir periode itu terlalu besar?
4. Apakah sama nilai persediaan apabila menggunakan metode LIFO didalam sistem perpetual dan metode LIFO dalam sistem periodik.
5. Apakah gunanya kartu persediaan?

B. Praktek
3. PT REDAN memiliki data yang berhubungan dengan persediaan barang dagangannya pada bulan Maret 2002 sebagai berikut:
Maret 01 Saldo 400 Kg @ Rp. 8.000,00
300 Kg @ Rp. 8.500,00
7 Penjualan 500 Kg
13 Pembelian 400 Kg @ Rp. 8.750,00
19 Penjualan 500 Kg
22 Pembelian 200 Kg @ Rp. 9.000,00
26 Penjualan 250 Kg
30 Pembelian 500 Kg @ Rp. 8.500,00
Hitunglah nilai persediaan pada 31 Januari 2003 apabila menggunakan
metode:
1. FIFO (Sistem Periodik).
2. LIFO (Sistem Perpetual).

C. Kunci Jawaban
a. Kunci Jawaban Evaluasi
1. Berdasarkan PSAK Indonesia, pengertian Inventory di dalam perusahaan dagang adalah barang yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, sedang di dalam perusahaan industri adalah barang yang masih dalam proses produksi untuk diselesaikan dan atau dalam perjalanan dan juga termasuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi.
2. Sistem pencatatan persediaan:
a. Sistem Periodik, yaitu pada setiap akhir periode dilakukan perhitungan secara phisik untuk menentukan jumlah persediaan akhir. Perhitungan tersebut meliputi pengukuran dan penimbangan barang-barang yang ada pada akhir suatu periode untuk kemudian dikalikan dengan suatu tingkat harga/biaya.
b. Sistem Permanen (Perpetual), yaitu melakukan pembukuan atas persediaan secara terus menerus yaitu dengan membukukan setiap transaksi persediaan baik pembelian maupun penjualan.
3. Bila persediaan akhir periode itu terlalu besar maka akan berakibat pada harga pokok penjualan yang lebih rendah, dan ini akan mengakibatkan laba kotor yang lebih tinggi.
4. Nilai persediaan yang didasarkan pada metode LIFO di dalam system perpetual akan berbeda dengan nilai persediaan yang didasarkan pada metode LIFO dalam sistem periodik, dikarenakan perhitungan kedua metode didasarkan pada angka-angka yang berbeda.
5. Kartu persediaan digunakan untuk mencatat transaksi-transaksi yang mempengaruhi persedian barang, hal ini untuk mengetahui nilai persediaan barang pada setiap saat (sistem persediaan perpetual).

b. Jawaban Soal Praktek.
1. Sistem Periodik (Metode FIFO):
Transaksi perdagangan PT. Haruan Kebarat, Jakarta dalam bulan Maret
2002:
1/3 Saldo 400 Kg @ Rp 8.000,00
300 Kg @ Rp. 8.500,00
13/3 Pembelian 400 Kg @ Rp 8.750,00
22/3 Pembelian 200 Kg @ Rp 9.000,00
30/3 Pembelian 500 Kg @ Rp 8.500,00
Total 1800 Kg
Total Penjualan 1250 Kg
31/3 Sisa di gudang 550 Kg (dihitung secara phisik di gudang).
Maka nilainya adalah:
50 Kg x Rp. 9.000,00 = Rp. 450.000,00
500 Kg x Rp. 8.500,00 = Rp. 4.250.000,00
Jumlah = Rp. 4.700,000,00

2. Sistem Perpetual (Metode LIFO):
Kartu persediaan yang disiapkan oleh PT. Haruan Kebarat adalah
sebagai berikut:

Barang: –
PD . Haruan Kebarat
Satuan: Unit
Metode: MTKP(LIFO)
KARTU PERSEDIAAN dlm Ribuan Rp
Tanggal Pembelian Penjualan Saldo
maret Unit harga total unit harga Total unit harga Total
1 400 8 3.200
300 8.5 2.550
7 300 8.5 2.250
200 8 1.600 200 8 1.600
13 400 8.75 3.500 200 8 1.600
400 8.75 3.500
19 400 8.75 3.500
100 8 800 100 8 800
22 200 9 1.800 100 8 800
200 9 1.800
26 200 9 1.800
50 8 400 50 8 400
30 500 8.5 4.250 50 8 400
500 8.5 4.250

BAB IV. PENUTUP

Setelah menelaah dan menyelesaikan modul ini, maka kita berhak untuk mengikuti tes paktik untuk menguji kompetensi yang telah dipelajari. Dan apabila kita dinyatakan memenuhi syarat kelulusan dari hasil evaluasi dalam modul ini, maka kita berhak untuk melanjutkan ke topik/modul berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Baridwan, Zaki. 1992. Intermediate Accounting, Edisi ke 7. Yogyakarta: BPFE -Yogyakarta.

Proyek Pengembangan Pendidikan Akuntansi, 1988. Akuntansi Keuangan. Jakarta: Proyek PPA, Depdikbud.

Horngren, Charles T., Walter T Harrison, Michael A. Robinson, dan Thomas H. Secokusumo, 1988. Akuntansi di Indonesia. Salemba Empat

Ikatan Akuntansi Indonesia, 2002. Standar Akuntansi Keuangan per 1
April 2002, Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Sembiring, Y. dan Sembiring, L., 1987. Soal-soal dan Pembahasan
Intermediate Accounting. Bandung: Pionir Jaya.

Machmud, Ali., 1993, Pengantar Akuntansi 2, Jakarta: Gunadarma

Suyoto, Moelyati, dan Sumardi, 1997. Akuntansi Keuangan, Jilid 1. Bandung: Titian Ilmu.

Munandar, M., 1981. Pokok Intermediate Accounting, Edisi 4.
Yogyakarta: Liberty Offset
http://www.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: