Perjalanan Menuju Tuhan

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirrahim,

Perjalanan menuju Tuhan, dalam rentang waktu yang cukup panjang telah memberikan nuansa warna pada shuf-shuf hidup dan kehidupan kita; ada warna hitam, ada warna putih pada rindu kita, cinta kita, sikap kita, dan kata kita.

Buku yang merupakan kumpulan puisi ini saya beri judul “SAJAK-SAJAK HITAM PUTIH” yang mengalunkan bait-bait kehidupan antara Tuhan, Manusia dan Alam dengan warna kesetiaan dan penghianatan.

Oleh karena itu melalui puisi-puisi ini wahai kekasih-kekasihku saya mengajak untuk berfikir, berdzikir dan bertadarus dengan segala yang ada di hadapan kita.

Tasikmalaya, 22 Juli 1996

Penulis,

AIR MATA TERUNTUK

SAUDARAKU BANG MUHAEMIN

Branda jendela

selalu terbuka; terjaga

tak pernah terkatup; tertutup

Menanti turunnya hujan menderas

membasuh basah teras-teras

yang selama ini kering-kerontang

Kering dari sujud dan penghambaan

Krontang dari tasbih, tahlil dan

pengakuan

Hujan yang turun tadi malam

menyelinap dalam tulang-tulang

bersemi dalam hati hatta dini hari

Hujan semakin menyayat-nyayat

ketika terdengar ayat-ayat sajdahmu

yang dibisikan bang Muhaemin saudaraku

Maka bang Muhaemin tersungkur

dalam sujud dan penghambaan

sedang aku tersungkur

sebagai Daud dalam pengakuan

28 Oktober 1994

BALADA RUMAH TANGGA

Bintang gemerlap

Mutiara berkilap

Jatuh dipangkuan ibu

tersedu-sedu

Embun pagi menangis bertati-tati

Melati layu menanti

Merpati terbang tinggi-tinggi

enggan menyaksikan nasib hari ini

Si kecil merengek minta game boat, alat mainan

Si gadis menangis minta perabot, alat kecantikan

Si besar yang bermimpi jadi sarjana

kembali menangis minta uang kemeja

Jerih payah sang ayah

cucuran keringat dan darah

yang mengalir diatas aspal

belum bisa menembus arti keadilan sosial

Ia mesti berjalan mendorong roda

menelusuri lorong-lorong di pinggiran kota

Ia mesti gulung tikar

karena ulah penguasa besar

Ia mesti tertidur di gubuk kontrakan

antara vila dan peristirahatan

Ia rakyat melarat

akibat korupsi pejabat

Ya Allah robbul I’zzati

selimuti jiwa hamba

sebab hamba ini tak ingin berdansa

dengan musik dunia pana

Ya Allah robbul I’zzati

penuhi hati ini

dengan cintamu yang sejati

sebab hambamu tak ingin bernyanyi

dengan kenikmatan duniawi

29 Desember 1994

GADIS INDAH

Gadis India bermata jelita

Merajut kisah lama ;

cerita Julia dan Rama

Gadis India yang pernah ku sapa

di Anggola, telah

menggaris duka

mengiris luka

duka lara;

duka kata

lara makna

duka lara;

duka dada

lara sukma

gadis India sekali lagi menari ria

menyanyikan lagu bianglala

membuat langit mendung

sorot mata berkabung

meski asaku terputus

meski anganku terhapus

aku masih bisa berkata:

“ di balik luka ada lempengan cinta “

“ di balik luka ada gita asmara “

“ di balik mega ada curahan hujan “

“ di balik debu ada benih yang mesti kutumbuhkan “

Sukahideng, 22 januari 1995

BURUNG PIPIT DALAM BINGKAI

KETAWAKALAN

Angina mendesir menyisir

pohon belimbing

burung-burung pipit

hinggap dari satu batang

ke batang lain

suaranya riuh gemuruh

ku dengar

Mereka bersuka-ria

menyanyikan lagu kedamaian

dari lantunannya terdengar

sebuah pesan

agar kita selalu mengumandangkan

arti kedamaian

arti kebebasan dan

arti kemerdekaan

di negri kita

di negri sana

di kerajaan biru langit dan

di kerajaan tanah hitam kelam

Burung pipit terbang hinggap di satu batang

mereka hidup berdampingan

tak ada pertengkaran apalagi permusuhan

tak ada iri hati apalagi ingin menguasai

Burung-burung pipit yang telah kupuisikan

begitu pasrah dan sadrah

pada putusan tuhan

mereka terbang

dengan perut kerontong

mereka kembali

dengan perut berisi

22 februari 1995  M

22 Ramadhan 1415 H

GADIS FARIS

Musim telah berhenti

musim semi tiba mengganti

bunga-bunga cinta bersemi

menghiasi tema hati ini

Bila senja tiba kupu-kupu

hinggap di kelopak mata

menyanyikan lagu biang lala

membangkitkan glora dalam jiwa

Bila kulihat sorot matanya

binar bersinar

menjanjikan kedamaian

sayapnya melambai-lambai

menawarkan kesejukan

di mukanya ada gurat cinta

yang musti aku baca

dan dari semburan senyumnya

ada benih kasih yang mestiku semaikan

kupu-kupu yang ku puisikan ini

adalah gadis manis

dari kota Faris

yang selalu hadir dalam mimpi

dan selalu ku rindukan

dalam kenyataan.

Maret, 1995

ROSULKANLAH HAMBA

Hamba hela nafas dalam-dalam

agar rindu dapat tertumpahkan;

terlukis pada batu-batu karang

tertulis pada daun-daun ilalang

tertiup angina jauh

menjelajahi gurun pasir

tempat paduka terlahir

Hamba hanya bisa merahuh;

kata aduh…aduh… kesakitan

ketika rindu mulai menggebu

ketika cinta menyengat rasa

ketika bayangan datang menikam

Mungkin orang menduga

buta atau malah gila

tapi taka apa

sebab hamba

sedang dimabuk cinta

mabuk kepayang

pada sang panutan alam

Saban kali

hamba lepaskan leleh rindu ini

kepada gelombang

rambut yang terelus panjang

tapi sayang itu

bukan satu-satunya merk kesetiaan

sebab cinta sejati

hanya ada di dasar; lubuk hati ini

Sekarang, hamba mulai sadar

mungkin hanya lewat

surat-surat

yang paduka kirimkan

rindu ini dapat tersiram

dan jiwa bisa

tenang tentram

Demi kata cinta

Demi kasih sayang

padaku pada hamba

hamba senandungkan

syair-syair malam

lewat: Allah Sholli’alaa Muhammad

sebagai sapaan

buat paduka

sepanjang masa

12 April 1995

SAJAK HITAM PUTIH

Hitam putih langitku

Hitam putih bumiku

Hitam putih jiwaku

Hitam putih ragaku

Hitam putih nuraniku

Hitam putih kelakuanku

Hitam putih lembaranku

Hitam putih tulisanku

Hitam putih riwayatku

Hitam putih nasib puisiku

Hitam putih cintaku

Hitam putih kesetiaanku

Jika aku putih

maka aku hitam

JIka aku hitam

maka aku putih

sebab aku suka hitam

sebab aku suka putih

sebab aku suka hitam putih

sebab aku suka putih hitam

Malaikat putih

di tengah kananku

Malaikat hitam

di tengah kiriku

Malaikat putih

mancatat putih

Malaikat hitam

mencatat hitam

Mungkin hitam semakin kelam

Mungkin putih semakin kusam

Hitamku dosaku

Hitamku jahanam

Putih ku pahalaku

Putihku jannahku

Entah aku

satria baja hitam?

Entah aku baja putih?

Aku takut hitam nanti

Aku ingin putih nanti

nanti adalah saat

saat yang kau

lukiskan

dalam firman mu

————-

ketika muka manusia

terbelah dua

antara hitam kelam

dan putih bersih

Aku takut hitam

karna kau tak suka hitam

Aku takut hitam

sebab kau telah berpirman

—————

Tahukah kamu

wahai manusia

bagaimanakah nasib

si wajah hitam muram

mereka akan kami tanyai

Kenapa kau tak percaya

kepada kami?

Kenapa kau ingkari

nikmat kami

Kenapa kau berani

mendustai kami

Kenapa kau berani

mendurhakai kami

Mereka samua bungkam diam

bisu terpaku

mendekam dalam

siksaan

Aku ingin putih

sebab kau suka putih

Aku ingin putih

sebab kau berfirman

———–

Orang yang berwajah

putih berseri

bersinar binar

mereka akan berada

dalam belaian kasih saying

dan pelukan kedamaian

Sekarang aku datang

sujud padamu

untuk mencelup bajuku;

kulitku, jiwaku dan batinku

Sekarang aku datang

dengan tertegun malu

padamu

untuk membasuh

muka lusuh

hitam kusam

dengan shibghohmu

wahai Tuhan.

Suka hideng, 16 Mei 1995

KEMATIN SANG MENTARI

Senja telah tiba

matahari akan terbenam

tenggelam di peraduan

ajal manusia jua

pasti datang menerkam

dengan taring kematian

Sukahideng, 21 Mei 1995

SELAMAT JALAN

(buat ; kelas III tersayang)

Adiku sayang

lama kita memghitung angka

satu, dua, dan tiga

Adiku sayang

lama pula kita meng-eja

A-Ba-TA-Tsa

apalagi bila

sampai sejuta

atau pada

Wa-HA-La-A-Ya

Adiku sayang

demikian kita

memehat kisah

mengukir sejarah

menguntun riwayat

dan meredah hikayat

wahai adiku

Jika satu bertemu sudah

maka tiga berpisah kisah

dan jika alif adalah pertemuan

maka ya adalah perpisahan

Adiku sayang di tanah ini, kita diam

di tanah ini, kita mendekam

di tanah ini, kita sibakan

segala kepalsuan

dan kita rasakan kasih sayang

Sekarang, adiku

Matahari senja telah tiba

sebentar lagi akan terbenam

disusul selimut malam

dengan pelukan sumyi-sepi

mencekam

Adiku sayang

Ini malam adalah malam

nostalgia buat kita

Ini malam adalah malam

yang akan memisahkan kita

Ini malam adalah denyut

terakhir nafas kita

Lusa, kau bersama

terbitnya sang mentari pagi

akan tinggalkan kami

Selamat jalan parahiyanganan

Selamat jalan kota kembang

Selamat jalan kota budaya

Selamat jalan kota metropolitan

semoga sehat selalu

semoga tetap bersatu

Adiku sayang

kakak suka

kita berpisah

asal atas kehendaknya

Kakak juga senang

kau tinggalkan kami semua

asal jangan mencoba

menghianati dan

berpisah dengan-Nya.

Sukahideng, 22mei 1995

DIMANA KEKASIH SETIA

“(teruntuk; POPY SHOPIA )

Shopia  …

semilir angin malam

adalah nyanyian kerinduan

sedang desir ombak di patai kuta

adalah golok dendam dalam dada

Shopia …

Jika gitar yang kau petik

maka dawai akan bergetar

dan asyik akan kau rasakan

demikian jua, cinta yang kau lukis

akan terasa manis

Namun

Shopia …

Jika seluring bambu

yang kau tiup

maka suara merdu

akan terasa pilu

bagai disayat sembilu

sebab dendammu telah menyatu

Shopia …

Kemarin kau rindu

sekarang kau dendam

dan esok kau akan

rindu dendam

rindu bukan milik kita

dendam bukan milik kita

cinta bukan milik kita

cita bukan milik kita

Shopia …

Tak usah kau

kejar seribu bayangan

Tak usah kau

gapai selaksa cita

biar cinta datang;

datang menghadapmu sendirian

Shopia …

kau tak mesti mencari

kekasih sejati;

kekasih setia

sebab ia telah ada

ada dalam jiwa

ada dalam ada

dan ada dimana-mana

kau bisa menemui-Nya, Shopia…

kau bisa memeluk-Nya, Shopia …

dalam sujud dan raka’atmu

yang kau untai di rumah-Nya.

Sukahideng, 30 Mei 1995

ANTARA MAKAH MADINAH

1

Awan hitam

Asap kelam

menyelimuti lembah

Tsaniah; kota mekah

2

Gulita mega kian kentara

menutup jendela manusia

mereka menjadi buta;

mendewakan Lata, Uzza

3

Pada bulan Robi’ul awal

purnama mulai medal

menggariskan isarat

bagi orang yang tersesat

4

Namun sayang

burung-burung elang

tak bisa bertetangga

dengan sang purnama

5

Namun sayang

burung-burung elang

tak bisa bersahabat

dengan bulan bulat

6

Burung-burung elang

terus mengejar

burung-burung elang

terus menyambar

7

Burung-burung elang

terus menukik

suaranya berkuik-kuik

mencekik

8

Seketika purnama lelah

seketika purnama kesah

demi Laa ilaaha illallah

tiada Tuhan selain Allah

9

Waktu itu bulan terengah-engah

waktu itu bulan pun berdarah

demi Laa ilaaha illallah

tiada Tuhan selain Allah

10

Hari terus berlalu

wajah Nabi pilu membeku

menunggu tanda seru

dari dzat yang maha satu

11

Maka tiba-tiba datang

suara langit menggelantang

menikam jantung

membelah gunung

12

Berisi perintah

hijrah

ke Madinah

setelah bulan Dzulhijjah

13

Muharam saatnya tiba

wajah Nabi kembali ceria

ia berangkat

bersama para sahabat

14

Mendaki gunung

merakit bukit

menuruni lembah

menuju kota madinah

15

Abu Jahal si burung elang

abu Lahab si alap-alap

abu Sofyan si gagak hitam

kembali menghadang

16

Namun purnama tidak akan sirna

dan bulan akan tetap menyala

menerangi sebuah cakrawala

menempuh suluk Lillahi ta’ala

Sukahideng, 31 Mei 1995

SAJAK-SAJAK KOPI SUSU

Segelas susu

segelas madu

secangkir kopi

seloki wisky

sudah tersedia

di meja kita

tinggal pilih mana

maunya

Susu sehat

madu kuat

kopi pahit

wisky penyakit

Segelas susu

segelas madu

secangkir kopi

seloki wisky

Guru, Kiai dan Santri

meneguk susu

mengecup madu

sedang, Gang, gadungan dan preman

meminum kopi

melahap wisky

Tetapi, aku ini

bukan guru, kiai atau santri

bukan gang, gadungan jua preman

aku hanyalah aku

bukan susu bukan madu

bukan kopi bukan wisky

sebab aku kadang

mengecup susu madu

sebab aku kadang

meneguk kopi wisky

Segelas susu

segelas madu

secangkir kopi

seloki wisky

sudah tersedia di meja

kita tinggal pilih mana

maunya

sebab Tuhan telah berfirman

—————

Mau beriman

silah kan

mau tidak percaya

tak mengapa

namun mesti diingat

bahwa Tuhan

telah menyiapkan jahanam

yang menyengat

jika mereka berkata

air… air

beri kami air

maka niscaya

mereka akan menelan

air timah panas

yang membuat kulit

terkelupas

Segelas susu

segelas madu

secangkir kopi

seloki wisky

sudah tersedia di meja

kita tinggal pilih mana

maunya

Sukahideng, 3 Juni 1995

NASEHAT KAKAK TUA

Burung kakak tua

bersabda

Hati ini sangatlah dalam

sedalam lautan

bahkan jua lebih dalam

Suaranya riuh gemuruh

bagai badai di jaman Nuh

Burung kakak tua

bersabda

Hati ini sangatlah dalam

sedalam lautan

bahkan jua lebih dalam

bisik angannya bergelora

bak ombak di samudra

Mari kita dengar

bersama

apa bisik nyanyiannya

Sukahideng, 4 Juni 1995

INI : ITU = MANUSIA

Ini itu manusia suka

Ini itu suka manusia

Manusia ini suka itu

Manusia itu suka ini

Suka    ini    manusia

Suka    itu    manusia

Suka    suka     manusia     suka

Manusia    manusia    suka    manusia

Suka         ini         suka         itu

Suka         itu         suka         ini

Ini  itu  suka manusia

Itu  ini manusia  suka

Ini   ini   manusia  ini

Itu   itu   manusia  itu

Ini   itu   manusia  jua

Sukahideng, 4 Juni 1995

INI ITU TANDA TANYA

Ini  Itu  Ini

Ini  Itu   Itu  Ini

Ini Itu    Ini   Itu Ini

Ini Itu           Itu Ini

Ini Itu           Itu Ini

Ini Itu         Itu Ini

Itu Ini

Itu Ini

Itu Ini

Ini Itu

Ini Itu

Ini Itu

Ini Itu

akhirnya

aku    jatuh

pada ini

Sukahideng, 4 Juni 1995

AIR MATA SEORANG BUNDA

Dua aliran sungai surga

telah mengalir ke dunia

sebagai tanda

atas kasih sayang seorang bunda

ia telah datang menghujan

menyelinap di taman-taman

agar bunga-bunga tumbuh bersemi

mendekor bumi ini

Dua aliran sungai surga

telah datang ke dunia

membawa angin kesejukan

nafas kesegaran dan

udara kehangatan

Dua aliran sungai surga

airnya semakin deras

ketika langit mendung

ketika wajah anak bangsa murung

Dua aliran sungai surga

adalah symbol dari ari mata

seorang bunda

yang sedang memeluk anaknya

Dengan suara yang tersendat-sendat

diselingi isak tangis

sang bunda bertutur kata

wahai anakku sayang

bukan ibu tak sayang

namuan sayang

ibu tak punya uang

yang ibu punya

hanya keringat dan air mata

maka biarkan ini keringat melekat

di dasi dan kemejamu

dan jangan kau usap

air mata yang jatuh di keningmu

agar kau tak lupa atau melupakan

bahwa seorang presiden, seorang mentri

seorang sarjana, seorang pengusaha

seorang petani, seorang kuli

seorang sastrawan dan seorang wartawan

dibesarkan dengan keringat dan air mata

seorang bunda

17 November 1995

BERTASBIH BERSAMA PARA KEKASIH

Subhanallah

Subhanallah

Subhanallah

Aku bertasbih

bersama lebah-lebah

di bawah sarang berkubah

di atas sehelai sajadah

Aku dan mereka bersama-sama

menghitung jumlah angka

dan kata

entah berapa kata yang kubaca

entah berapa angka yang kutata

aku tak tahu berapa-berapanya

mungkin 33

mungkin 100

atau 360 bisa juga

sesuai dengan jumlah hari dan kesempatan

yang banyak kita habiskan

dalam angan-angan

khayalan dan ketidakpastian

tentang cita

tentang cinta

tentang lapangan kerja

dan tentang nasib anak bangsa

yang diwarisi hutang negaranya

Alhamdulillah

Alhamdulillah

Alhamdulillah

Aku bertahmid bersama lebah-lebah

di sebuah rumah ibadah

mereka adalah lebah-lebah suci

yang tak pernah menanam duri

dalam lubuk hati insani

mereka adalah lebah-lebah

yang tak pernah menghisap darah

karena bisa mematikan manusia

bangsa, negara dan agama

Allahu-akbar

Allahu-akbar

Allahu-akbar

Aku bertakbir

di atas permadani

bersama lebah-lebah suluki

yang selalu mawas diri

dan menghasilkan karya-karya ilahi

demi menggapai maqomat yang paling tinggi

sebagai buah rindu para kekasih yang sejati

Sukahideng, 27 Nopember 1995

Wahyudin Abdu Robbihy

OPLYTHEISME

Temanku seorang pengembara

datang membawa duka lama

dari reruntuhan sebuah kota

yang sudah tak berbahasa

di sana ; di khatulistiwa

agama telah dimitoskan

moral telah dimuseumkan

hidup telah dimaterikan

hedonisme telah dimonumenkan

orang-orang telah mengabadikan dirinya

pada propesi, ambisi

obsesi harga diri

kiblat mereka

telah pindah

dari ka’bah

ke antena dan parabola

tuhan-tuhan mereka

kemauan; hawa nafsunya

apa yang mereka baca

apa yang mereka dengar

apa yang mereka lihat

apa yang mereka rasakan

hanyalah kisah-kisah telenovela

dari cerita Kasandra

sampai si cantik Clara

mereka lupa

tak tahu cerita kalam yuhan;

cerita Musa

cerita Isa

cerita Adam

cerita Muhammad SAW

mereka terbuai

dalam tirai

terhipnotis

oleh iklan dan kuis

Aku semakin tidak mengerti

ketika sajadah mereka berubah

menjadi lumpur-lumpur sawah

kantor-kantor

menjadi pusat para koruptor

pasar-pasar

menjadi tempat i’tikap

para penyulap

sial dengan

tatanan

sial dengan

kebudayaan

setiap orang

menyebutnya kemajuan

sedangkan aku bersaksi

demi puisi-puisiku

yang selalu membawa

luka duka

ini adalah kebodohan

ketololan, dan keterbelakangan

jarum sejarah kembali

melingkari

lilitan-lilitan hitam

masa silam;

saat Firaun berkata

Anaa Robbukum al- a’laa

saat Abrohah

merubah roboh wajah

ka’bah

saat-saat manusia

dalam kegelapan

Aku tak bisa apa-apa

selain berbisik

pada daun-daun kemboja

bahwa dunia sudah tua

sedang mendekati ajalnya

dan aku pun

hanya bisa

melukis tangis

bersama bumi

yang masih menyimpan

hati nurani

Pangkalan, 3 Maret 1996

Wahyudin Abdu Robbihy

ANGGUR CINTA

Kukuras air mata

dari air yang terperas

ku peras cinta

dari anggur yang terluka

kuluka dari duka

yang terparna

parna karena tak ada obatnya

selain Dia

Dia yang membuat

diri mabuk

Dia yang membuat

hati masyuk

aku mabuk

aku masyuk

mabuk Dia

masyuk Dia

walau pernah mendua

dalam cinta

memadu

dalam cumbu dan rindu

aku rindu ingin bertemu

aku malu tak bisa menyatu

Sukahideng, 7 Maret 1996

Wahyudin Abdu Robbihy

KADO PUISIKU

Buat ; Sukamanah yang terluka

Sukamanah yang tercinta

telah lama

kau menelan luka

mengenyam duka

karena gugurnya

bunga-bunga bangsa

Sukamanah yang terluka

bumimu telah bersimbah darah

tubuhmu tercabik-cabik

samurai sejarah

teriris-iris

pisau tirani

yang memardukan bumi

menyembah matahari

Sukamanah yang terduka

darahmu mengalir

terbawa sungai-sungai

menjarah lautan sejarah

mengarungi

samudra tak bertepi

Sukamanah yang tersayang

walau kau telah membumi

tapi jiwamu tak pernah mati

harumu tetap mewangi

memenuhi

kahiyangan langit ini

Wahai Sukamanah

yang telah mengukir sejarah

wahai bunga-bunga kamboja

yang jatuh diatas pusar

wahai ranting-ranting pinus

yang menjajap mereka

menuju Al-Quddus

wahai batu-batu nisan

yang menjadi saksi

atas kebiadaban para tiran

saat ini, Sukamanah

kembali berdarah

tapi bukan darah sejarah

bukan pula darah KHZ. Musthafa

dan para suhada

darah diatas darah

darah amarah

darah serakah

darah yang telah

menyulut bara kebencian

darah yang telah

manyalahkan api permusuhan

hampir saja klise pembunuhan

kobil-kobil diputar kembali

diatas tanah mu ini

Sukamanah yang tersayang

jika kau masih hidup

jika kau masih melihat

jika kau masih mendengar

jika kau masih merasa t

erimalah bingkisan;

kado puisiku

yang membawa luka

atas kebiadaban

manusia-manusia serigala

Selamat jalan Sukamanah

selamat jalan menuju tuhan

semoga kau tetap sejahtera

dalam keabadian di nirwana

Sukamanah, 29 maret 1996

Karya Ustd. Yuyun.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: